Beramai-ramai Menjual Ide dan Tokoh

MANAJEMEN PARTAI POLITIK (4)
Kamis, 1 April 2010 | 04:07 WIB
Susie Berindra

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/01/04074644/beramai-ramai.menjual.ide.dan.tokoh

Setiap kali pemilihan umum datang, partai politik berlomba-lomba merebut simpati. Entah itu parpol lama ataupun parpol baru, semuanya menjual program, ide, dan tokoh andalan. Ramai-ramai parpol menjual janji-janji yang belum tentu terwujud dan terasa di kehidupan masyarakat.

Menarik minat masyarakat terhadap parpol bukanlah hal mudah. Pada zaman sekarang, masyarakat tak mudah percaya dengan program-program yang ditawarkan parpol. Program-program seperti pengentasan warga dari kemiskinan, mengurangi angka pengangguran, biaya pendidikan dan kesehatan gratis, atau meningkatkan jaminan sosial tidak lagi membuat masyarakat tergiur.

Kenyataan itu bisa dilihat dari hasil Pemilu Legislatif 2009. Sebanyak 49.677.076 orang atau 29,01 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap tidak menggunakan hak pilihnya. Jumlah itu lebih besar dari perolehan suara Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu, yaitu 21.703.137 suara.

Hasil jajak pendapat Litbang Kompas juga menyebutkan, 54,9 persen responden menyatakan tidak percaya dengan parpol. Bahkan, responden lebih memilih media massa sebagai penyalur aspirasi, yaitu 42,4 persen.

Padahal, berbagai cara, baik yang sulit maupun mudah, dilakukan oleh parpol peserta pemilu. Hal yang mudah dan tidak njlimet dilakukan Partai Persatuan Pembangunan. Wakil Sekretaris Jenderal PPP Romahurmuziy mengatakan, PPP memiliki jargon yang sudah lama dikenal, yaitu ”Islam Agamaku, Ka’bah Kiblatku, PPP Pilihanku”. ”Struktur pemilih di Indonesia sekitar 55 persen tidak lulus SD, maka cukup selesai dengan (jargon) itu. Kenapa harus berpikir njlimet,” ujarnya.

Masih figur

Berbeda dengan parpol pemenang pemilu yang menjual tokoh. Partai Demokrat masih bisa menjual citra Susilo Bambang Yudhoyono untuk dapat meraih suara terbanyak, baik di pemilu legislatif maupun pemilu presiden. Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Achmad Mubarok mengakui bahwa citra Yudhoyono menyumbang 60 persen sampai 70 persen untuk meraih kemenangan. Lalu, apa yang akan ditawarkan Partai Demokrat pada Pemilu 2014?

”Itulah masalahnya. Lima tahun ini kami harus menyiapkan kader partai yang lain. Pak SBY tidak mengajarkan nepotisme. Misalnya, saya sekarang sudah mulai mengekspose Anas (Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum),” katanya.

Di sisi lain, Wakil Sekretaris Badan Pemenangan Pemilu DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Arif Wibowo mengungkapkan segala kebijakan, program, dan sikap partai dipahami sebagai langkah konkret atas ideologi. PDI-P mengaku menjual ideologi untuk mendapat simpati rakyat meski tak bisa dimungkiri bahwa PDI-P juga mengandalkan nama besar Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.

”Sejauh perilaku dan cara hidup para kader menampilkan citra positif serta jelas keberpihakannya pada nasib mereka yang dipinggirkan, kebijakan dan program yang dijalankan prorakyat, maka dukungan luas rakyat akan dengan mudah didapatkan. Namun, masalahnya hal tersebut belum bisa dijalankan dengan optimal,” katanya.

Kemenangan pemilu tentu juga membutuhkan loyalitas pemilih. Tanpa itu, tidak mudah mencapai posisi puncak. Nah, memasarkan parpol dengan ide, program, dan tokoh saja tidak mudah, apalagi ingin mendapat loyalitas pemilih. Firmanzah, ahli pemasaran politik dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dalam bukunya, Marketing Politik: Antara Pemahaman dan Realitas (2008), menuliskan, dibutuhkan suatu ikatan emosional, ideologi, serta rasional yang kuat antara parpol dan masyarakat agar loyalitas bisa terbentuk.

Trik pemasaran modern

Menurut Firmanzah, membangun loyalitas butuh waktu yang sangat lama karena untuk mencapainya dibutuhkan konsistensi dan bukti nyata dari janji serta harapan yang diberikan. Pemilih lebih dulu menunggu sebelum memutuskan untuk loyal kepada suatu parpol. Kekecewaan yang muncul terhadap suatu parpol dapat menyebabkan konstituen berpindah ke parpol lain.

Untuk itulah, trik-trik pemasaran modern menjadi penting bagi parpol apabila ingin tetap bertahan di kancah perpolitikan. Parpol tak bisa hanya sekadar menjual program dan tokoh. Apalagi, kalau pamor tokoh semakin memudar seiring dengan berjalannya waktu.

Sangat disayangkan jika sebagian besar parpol tidak mempunyai konsep pemasaran politik yang baik. Pertanyaan mengenai manajemen pemasaran politik yang modern masih saja dijawab dengan akan menawarkan berbagai program dan menjual tokoh. Dua hal itu tidak cukup apabila ingin mendongkrak suara pemilih di masa mendatang.

Peneliti LIPI, Lili Romli, mengungkapkan, saat ini banyak parpol yang memercayakan pemasarannya kepada konsultan untuk membangun citra parpol. ”Padahal, pemasaran parpol sangat penting sehingga bukan sekadar menyerahkan kepada konsultan untuk menjadi menang,” katanya.

Lili menambahkan, ada dua segmen pemilih yang diperebutkan oleh parpol, yaitu Islam dan nasionalis. ”Parpol memperebutkan pemilih yang jumlahnya juga banyak sehingga positioning parpol menjadi perlu untuk mencerdaskan pemilih. Kalau parpol terlalu lama mengunggulkan tokohnya, masyarakat tidak semakin cerdas,” tegasnya.

Kinilah saatnya parpol berlomba untuk menjual produknya secara cantik. Itu harus dilakukan apabila keberadaannya tetap ingin diakui masyarakat. Yang perlu dicatat adalah parpol harus memberikan pendidikan politik kepada pemilihnya untuk menjadi lebih cerdas.(FER/NTA/IDR/DWA/DAY/ WHY/NWO/ANA/BUR)




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: