2010, Titik Perubahan Partai Politik

MANAJEMEN PARTAI POLITIK (5-HABIS)
Sabtu, 3 April 2010 | 03:54 WIB
Wisnu Dewabrata

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/03/03544810/2010.titik.perubahan.partai.politik

Bukan perkara gampang mengelola sebuah partai politik. Apalagi jika punya ambisi besar memenangi mayoritas perolehan suara dalam setiap pemilihan umum, yang pada ujungnya bakal mengantarkan parpol itu masuk ke lingkar utama kekuasaan, baik di pemerintahan maupun legislatif.

Sebagai salah satu pilar demokrasi, parpol memang punya peran dan fungsi strategis. Secara ideal, dia dapat menentukan dan menyeleksi kandidat pejabat publik. Tidak hanya itu, parpol juga berperan dan bertanggung jawab besar dalam pendidikan politik warga negara supaya mereka bisa lebih ”melek” secara politik.

Lebih lanjut, di sisi lain, parpol juga punya tugas untuk mengartikulasi sekaligus mengagregasikan berbagai macam kepentingan dalam masyarakat sekaligus dalam konteks tertentu bertanggung jawab menuntaskan berbagai konflik yang muncul.

Berbagai peran ideal parpol tersebut disampaikan Lili Romli dari Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dalam diskusi yang digelar Kompas, Kamis, 18 Maret 2010, bertema ”Modernisasi Manajemen Politik Parpol”.

Turut hadir dalam diskusi, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Kuskridho Ambardi, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Achmad Mubarok, dan politikus muda PDI-P Budiman Sudjatmiko.

Meski begitu, diyakini pula tidak semua peran ideal tersebut mampu dijalankan secara konsekuen dan konsisten oleh kebanyakan parpol. Selain karena tidak mudah, sejumlah kalangan juga meyakini, untuk bisa mengarah ke kondisi ideal itu, partai-partai politik harus terlebih dahulu merombak sistem dan manajemen mereka menjadi lebih berparadigma modern.

Upaya merombak sistem manajemen internal di tubuh parpol, meliputi isu-isu seperti manajemen strategis, manajemen keuangan, manajemen sumber daya manusia, dan manajemen pemasaran politik, dipercaya menjadi suatu keharusan, setidaknya untuk jangka pendek, menyambut momen Pemilu 2014.

Akibatnya, tahun 2010 memang diyakini menjadi semacam titik perubahan sekaligus kesempatan terakhir bagi setiap parpol untuk berbenah dan mempersiapkan diri. Karena itu, dalam diskusinya, Kompas juga memfokuskan pokok pembahasan ke empat poin utama itu.

Dalam diskusi disepakati, kemampuan manajemen strategis meliputi, salah satunya, kemampuan parpol menerjemahkan ideologi menjadi visi, misi, platform parpol ke dalam program- program kerja yang kemudian dapat menarik minat calon pemilih mereka lantaran dianggap mewakili dan identik dengan kepentingan mereka.

Tidak cuma itu, parpol bermanajemen modern juga harus mampu mengelola dan menyiapkan keuangan, sumber daya manusia untuk kemudian menduduki jabatan-jabatan strategis, sekaligus mampu memasarkan diri mereka sendiri.

Lebih lanjut dalam paparan tertulisnya, Lili, mengutip Herbert Kitschelt (1955), mengategorikan parpol ke dalam tiga jenis: programatik, karismatik, dan klientalistik. Sesuai dengan namanya, partai programatik mengandalkan program kerja yang dilandasi ideologi dan platform partai yang bersangkutan.

Sementara partai karismatik tentu saja mengandalkan sosok atau figur karismatik dari tokoh partai yang bersangkutan sebagai magnet sumber suara, terutama dari kalangan para loyalis dan pengagum sang tokoh tersebut.

Tidak jauh berbeda, partai klientalistik pun mendasari keberadaan mereka dalam bentuk hubungan patronasi di mana tujuan partai lebih untuk mencari keuntungan pribadi, bersifat partisan, serta ”melayani” sang klien sebagai bentuk balas jasa.

Disangkal maupun tidak, dua partai jenis terakhir masih mendominasi peta parpol di Tanah Air. Parpol-parpol semacam itu masih tampak dan dominan pada masa Pemilu 2009. Sayangnya, kedua jenis partai itu diyakini bakal menemui banyak kendala jika ingin bertahan hidup sampai Pemilu 2014.

Para tokoh karismatik yang pada masa Pemilu 2009 masih laku ”ditawar-tawarkan” bakal memudar pamornya di Pemilu 2014. Selain lantaran faktor usia yang semakin ”uzur”, rentang generasi antara mereka dan generasi pemilih baru yang jauh lebih muda ketika itu sangatlah lebar.

Menyinggung soal isu perekrutan parpol, Kuskridho Ambardi menyambut baik dan mengapresiasi pola pengelolaan sumber daya manusia di beberapa parpol yang menurut dia patut diacungi jempol. Namun, dia juga membayangkan, perlu adanya rancangan pola perekrutan parpol, terutama individual, yang nantinya disesuaikan dengan posisi parpol yang bersangkutan.

Misalnya, untuk parpol yang ada di pemerintahan, mereka akan membangun suatu sistem perekrutan kader yang nantinya mendukung sumber daya manusia yang akan ditempatkan dalam posisi-posisi di pemerintahan.

Bagi parpol yang berada di luar pemerintahan (oposisi), mereka akan mempersiapkan kader, dengan jalan membentuk semacam jaringan ahli dan orang-orang yang nantinya berkompeten dan dipersiapkan untuk mengisi dan berkompetisi dalam pemilu berikutnya.

Dengan begitu, kader-kader yang berkompeten di parpol pendukung pemerintahan, misalnya, mereka akan membantu menerapkan kebijakan yang dibuat pemerintah. Kebalikannya, para kader berkompeten di partai oposisi akan selalu mencoba mengembangkan alternatif dari kebijakan yang dihasilkan dan diterapkan.

Keuangan parpol

Masalah pendanaan parpol juga diakui masih menjadi persoalan utama. Achmad Mubarok dari Partai Demokrat menyebutkan, persoalan seperti itu bahkan sudah ada sejak Partai Demokrat berdiri. Memang kerap ada tawaran dari sejumlah kalangan, terutama dari pengusaha, untuk menyumbang walau tidak selalu diterima.

Sementara, menurut Aburizal, kemandirian finansial sebuah parpol adalah suatu keniscayaan sekaligus sebuah kondisi ideal. Akan tetapi, hal itu masih akan sulit dilakukan jika regulasinya masih tidak membolehkan parpol mendirikan atau memiliki badan usaha sendiri.

Padahal, untuk bisa mengandalkan seterusnya pada sumbangan pihak luar dan simpatisan, hal seperti itu masih terbilang riskan. Aburizal mencontohkan kondisi ideal seperti di Amerika Serikat ketika bahkan pencalonan Presiden Barack Obama pun didukung secara finansial dari sumbangan simpatisan perseorangannya.

”Kalau kita lihat, kemenangan Obama juga akibat dukungan dana kampanye dari para simpatisannya yang menyumbang uang 5 dollar AS-15 dollar AS. Kita sebenarnya bisa juga begitu, tapi sepertinya jumlah (yang bisa dikumpulkan) masih jauh lebih kecil dari kebutuhan partai. Namun, soal keuangan, saya kira yang paling ideal, kalau kita bisa mengumpulkan dana dari masyarakat pendukung parpol,” ujar Aburizal.

Terkait isu serupa, Budiman Sudjatmiko menilai, sumbangan dari pihak pengusaha tidak selalu berkorelasi dengan afiliasi maupun kecenderungan politik dari pengusaha tersebut. Kecenderungannya, pengusaha akan menyumbang ke lebih dari satu parpol. Pertimbangannya, menurut Budiman, lebih berdasarkan kenyamanan.

”Siapa saja (parpol) yang menang dan berkuasa, mereka (para pengusaha) tetap bisa mengakses. Jadi, sepanjang parpol bisa membawakan agenda si pengusaha atau grup usahanya, tidak ada masalah. Walau lebih liberal, sumbangan ke parpol dari pengusaha di AS jauh lebih bisa dilacak, mana pengusaha yang (berafiliasi) ke Partai Demokrat dan mana yang ke Partai Republik,” ujar Budiman.

Kecenderungan seperti itu, menurut Budiman, lumayan baik jika bisa terjadi dan diterapkan di Indonesia. Untuk konteks AS, dia mencontohkan, pengusaha-pengusaha industri persenjataan dan jasa keuangan global jelas akan lebih berafiliasi pada Partai Republik walau ada juga sebagian yang lebih nyaman mendekati Partai Demokrat di sana.

”Jadi, yang saya bayangkan di sini, karena PDI-P dikenal sebagai parpol wong cilik, maka para pengusaha UKM atau manufaktur yang tenaga kerjanya berjumlah besar akan mendukungnya. Perusahaan pertambangan atau energi lebih berafiliasi ke Partai Golkar dan yang terkait militer atau finansial ke Partai Demokrat. Jadi ada kristalisasi,” ujar Budiman.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: