Adim Pun “Terjajah” di Lahan Sendiri

NASIB PETANI
Senin, 26 April 2010 | 05:02 WIB
Mukhamad Kurniawan

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/26/05023115/adim.pun.terjajah.di.lahan.sendiri

Puluhan tahun membanting tulang di sawah, nasib Adim (72) tak kunjung membaik. Hasil panen semakin tidak mencukupi kebutuhan hidup. Satu bahu (500 bata, 1 bata > 14 meter persegi) lahan warisan orangtua bertahan, tetapi tidak dengan kesejahteraan Adim dan keluarganya.

Tubuh Adim yang mulai sakit-sakitan harus dipaksa menjalani rutinitas pascapanen, menjemur padi. Dalam terik siang di jalan antardesa di Desa Sukamekar, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat (23/4), Adim jongkok di atas selembar terpal biru meratakan gabah dengan tangan.

Gabah itu sisa panen musim ini. Hampir 90 persen dari sekitar 5 ton gabah kering panen (GKP) hasil panennya terjual kepada tengkulak seharga Rp 2.550 per kilogram GKP. Dari sekitar 0,5 ton sisa panen itu, Adim dan Imi (65), istrinya, memenuhi kebutuhan pangan hingga panen musim depan.

Secara matematis, dengan gabah terjual 4,5 ton GKP dan harga Rp 2.550 per kg, Adim seharusnya mengantongi pendapatan Rp 11,4 juta pada musim ini. Namun, sekitar Rp 3,3 juta di antaranya telah dibayarkan ke kios dan rentenir untuk menutup utang pupuk, pestisida, dan ongkos bajak. Uang Rp 3 juta lainnya digunakannya untuk berobat ke rumah sakit. Sisanya, Rp 5,1 juta, ia cadangkan untuk modal tanam dan simpanan keluarga.

Akan tetapi, tidak mudah bagi Adim mengatur sisa uangnya hingga empat bulan ke depan. Hidup serumah dengan keluarga putra pertamanya, Imin (38), Adim harus berbagi pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sekolah cucu, kebutuhan dapur setiap hari, dan berbagai keperluan lain. Seperti musim-musim sebelumnya, sisa uang sering kali tak mencukupi.

Tidak seperti dulu

Sejak tahun 1970-an, Adim mengelola 1 bahu (sekitar 7.000 meter persegi) sawah warisan orangtuanya, almarhum Salim dan Kainem. Pada tahun 1980-an, ia memiliki keuntungan dari bertani dan mampu membeli sawah 0,5 bahu. Luas itu bertahan hingga kini.

”Tidak seperti dulu, hasil panen sekarang jangankan untuk membeli sawah lagi, untuk membayar utang modal dan memenuhi kebutuhan sehari-hari saja tak cukup. Pupuk, obat, ongkos olah lahan dan tanam semakin mahal saja,” ujarnya.

Selain membeli sawah, kenang Adim, ia terkadang membeli perhiasan bagi Imi seusai panen. ”Dulu (tahun 1980-an), 0,5 kuintal gabah dapat ditukar dengan 1 gram emas, sekarang butuh 1 kuintal gabah lebih (asumsi harga emas saat ini Rp 320.000 per gram),” tutur Imi.

Kenaikan harga pupuk per 9 April 2010 memaksa Adim berpikir untuk meminjam modal lagi. Sebab, sisa pendapatan telah ia cadangkan untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti musim-musim sebelumnya, ia akan membayar utangnya setelah panen.

”Dulu mengolah sawah dengan cangkul dan bajak kerbau, memupuk dengan kotoran dari kandang dan sisa daun dari kebun, serta tidak perlu membeli pestisida sehingga ongkos tanam murah. Sekarang, apa-apa harus dengan uang, jadinya repot kalau modal terbatas,” kata Adim.

Adim sedikitnya harus mengeluarkan dana Rp 1,5 juta pada awal musim, antara lain Rp 500.000 untuk menyewa traktor, Rp 500.000 untuk membayar upah buruh tanam, dan Rp 500.000 untuk pemupukan pertama. Selebihnya, ia membutuhkan modal untuk pemupukan kedua dan membeli pestisida hingga masa panen tiba.

Meski punya lahan sendiri, Adim nyatanya belum ”merdeka”. Berada di posisi sebagai produsen pangan, nasib Adim tetap saja miskin. Jika kebutuhan hidup keluarganya terus mendesaknya, bukan tidak mungkin Adim menempuh jurus terakhir, menjual lahan!

Jalan terakhir ini sudah ditempuh beberapa petani tetangganya di Kampung Kalenjeruk, Desa Sukamekar, yang terpaksa menjual sawah untuk biaya sekolah anak, berobat, dan memenuhi kebutuhan lain.

Sawah-sawah di sekitar Adim kini tak lagi milik warga desa. Sebagian telah beralih ke pemodal yang tinggal di Bekasi, Bandung, atau Jakarta. Beberapa warga desanya kini menjadi kuli di bekas lahannya sendiri. Mereka menanam padi dengan sistem maro (bagi hasil) atau sewa.

Dengan ongkos produksi yang terus naik dan keuntungan yang semakin kecil porsinya dibandingkan dengan modal, Adim seperti terjajah di lahannya sendiri. Ia terbelenggu oleh harga-harga kebutuhan hidup.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: