Seperti Tanpa Rencana dan Pengelola

Sejumlah Proyek di DIY Gagal Mengemban Tugas
Senin, 7 Juni 2010 | 10:51 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/07/10514287/seperti.tanpa.rencana.dan.pengelola

YOGYAKARTA, KOMPAS – Sejumlah proyek besar infrastruktur di DI Yogyakarta yang dikerjakan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota saat ini gagal mengemban tugas mulianya. Padahal, proyek-proyek itu dibangun dengan menghabiskan dana besar dari rakyat. Tujuannya pun ndakik-ndakik saat perencanaannya. Namun sekarang, setelah bangunan itu tersedia, semua tujuan yang tercatat di rencana seperti tidak ada.

Mulai Senin (7/6) hingga Jumat (11/6), Kompas akan menurunkan tulisan tentang nasib proyek- proyek yang masuk kategori gagal yaitu Taman Kuliner (Sleman), Pasar Seni Gabusan (Bantul), Youth Centre DIY (Sleman), Terminal Tipe A Wonosari (Gunung Kidul), dan Terminal Giwangan, Yogyakarta.

Di Kota Yogyakarta, megaproyek Terminal Giwangan yang beroperasi 2004 menghabiskan dana Rp 119 miliar. Saat ini, terminal pengganti Umbulharjo itu seperti tak berdenyut. Harapan besar terminal ini menghidupkan perekonomian selatan Yogyakarta tinggal di atas kertas rencana.

Di area komersial dengan 550 kios hanya terisi 206 kios atau 37 persen. Kios-kios yang terkunci menjadi pemandangan umum di terminal seluas 5,8 hektar itu. Tata ruang terminal yang tidak mendekatkan arus orang dengan berbagai aktivitas usaha dinilai menjadi penyebab sepinya kioskios. Sebab lainnya adalah penurunan jumlah bus dan penumpang. Di awal pengoperasian, jumlah penumpang 8.000 orang per hari. Saat ini, jumlah penumpang berkisar 6.600 orang per hari.

Kepala Unit Pelaksana Teknis pengelola Terminal Giwangan Imanudin Aziz mengatakan, dari sekitar 3.000 bus antarkota antarprovinsi yang memiliki izin trayek di Giwangan, hanya sekitar 1.000 yang beroperasi di terminal.

Mimpi indah

Pasar Seni Gabusan (PSG) merupakan salah satu proyek gagal Bantul. Awalnya tempat ini didesain sebagai pasar seni kerajinan seperti di Pasar Sukowati, Bali. Sampai sekarang, mimpi PSG belum mewujudkan. Mungkin pengurus PSG belum bangun dari tidur.

Tidak sulit melihat kegagalan PSG. Tanyakan omzet perajin yang menjajakan produk. ”Dalam sehari, omzet saya paling berkisar Rp 50.000-Rp 100.000. Itu pun saat ada pengunjung. Seringnya sih apes karena gak dapat apaapa. Padahal, setiap bulan saya harus bayar upah penjaganya,” kata Supriyono, perajin batik lukis.

PSG dibangun di lahan seluas 7,5 hektar dan memiliki 444 kios. Meski pemerintah daerah tidak menerapkan retribusi khusus, antusiasme perajin memanfaatkan fasilitas tidak menggembirakan. Mereka berharap ada perbaikan manajemen, terutama untuk promosi.

Di Sleman, Taman Kuliner juga bernasib tragis di tengah larisnya hampir semua tempat makan di Yogyakarta. Deretan kios di ruas jalan utama taman, beberapa di antaranya terlihat buka. Namun, kios-kios di belakangnya sunyi senyap. Pintupintu kois terkunci rapat dan terlihat sejumlah karat.

Taman Kuliner di Condong Catur dibuka Juni 2007. Dari 120 kios di Taman Kuliner yang disiapkan, hanya tiga toko kelontong dan 10 warung makan yang rutin buka. Masa-masa awal buka Juli 2007, semua kios sudah disewa dan 95 persen di antaranya buka. Karena tidak diminatinya, sewa kios (3 meter x 3 meter) turun dari Rp 300.000 menjadi Rp 75.000 sebulan.

Belum rampung

Di Gunung Kidul, Terminal Tipe A Wonosari yang pembangunannya dimulai sejak Bupati Yutikno bahkan belum rampung.

Kepemimpinan di Gunung Kidul telah berganti ke Bupati Suharto dan akan berlanjut ke Sumpeno Putro, tetapi pembangunan Terminal baru selesai sekitar 50 persen. Pembangunannya diperkirakan menelan dana Rp 45 miliar dan ditargetkan baru rampung 2011.

Kepala Bagian Humas, Protokol, dan Rumah Tangga Sekretariat Daerah Gunung Kidul Supriyanto mengakui, pembangunan terminal lama karena dianggap belum mendesak. ”Kehadiran terminal tipe A belum mendesak dan bukan prioritas. Dulu, pembangunan dimulai karena ada kucuran dana dari pusat,” katanya.

Sejak dibangun tahun 1999 menempati lahan seluas sekitar 5 hektar, Youth Center yang dirancang sebagai pusat kegiatan kaum muda hingga kini ”tidak hidup”. Pembangunannya mandek, beberapa fasilitas yang direncanakan ada belum terbangun. Sebut misalnya kolam renang dan panggung teater terbuka.

Fasilitas yang sudah ada seperti laboratorium lebih banyak menganggur. Youth Center yang dilengkapi gedung asrama, aula, dan lima ruang kelas ini pernah akan dialihkan pemanfaatannya oleh Pemprov DIY sebagai SMA internasional.

Lokasi Youth Center tidak strategis dan sulit diakses. Tidak ada angkutan umum yang lewat tepat di depannya. ”Pemilihan lokasi jelas salah,” ujar Sekretaris Komisi D DPRD DIY Arif Rahman Hakim.

Menurutnya, kegagalan Youth Center akibat lemahnya perencanaan seperti penentuan lokasi, pengelolaan, dan anggaran pemeliharaan. Kelemahan ini membuat proyek-proyek gagal itu ”cacat” sebelum lahir.

”Itu terjadi karena terburuburu sebatas mengerjakan proyek mumpung ada dana, tetapi tidak membayangkan bagaimana mengelolanya kemudian,” ujar Arif. (PRA/ENG/ENY/WKM/RWN)




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: