Taman Kuliner, Sepi dan Muram

Proyek Gagal (1)
Senin, 7 Juni 2010 | 10:55 WIB
LUKAS ADI PRASETYA

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/07/10555880/.taman.kuliner.sepi.dan.muram

“Tempat Makan dan Belanja Nyaman”. Begitu tulisan leaflet Taman Kuliner. Ada juga tulisan, ”live music setiap malam Minggu, lomba karaoke, pentas seni”.

Itu semua memang ada. Tepatnya pernah ada sejak Juni 2007 hingga setahun lalu. Sekarang, lupakan bayangan indah tempat makan yang digadang-gadang sebagai ikon wisata Sleman itu. Taman Kuliner sekarang muram.

Kemuraman menyeruak sejak di gerbang Taman Kuliner yang ada di Jalan Anggajaya, Condong Catur. Kios di ruas jalan utama terlihat buka. Namun, kios-kios di belakangnya senyap. Pintu-pintu mengatup rapat.

Purwanto, Ketua Paguyuban Pedagang Taman Kuliner, adalah satu dari segelintir pedagang yang bertahan sejak buka Juni 2007. Sabtu (4/6) sore, ia duduk di bangku kayu depan kios nasi goreng dan cap cay.

”Malam nanti tidak ada pentas musik. Acara-acara seremonial juga tak lagi sering diadakan,” ujar Purwanto.

Dari 120 kios di Taman Kuliner, hanya tiga toko kelontong dan 10 warung makan yang buka tiap hari. Menurut catatan, awal Juli 2007, semua kios disewa dan 95 persen buka. Wajah cerah prospek tempat itu luntur perlahan.

Februari 2008, hanya 10 persen kios yang ditempati. Meskipun gencar promosi, tetap saja sepi. Karena itu, penjual merasa tidak ada gunanya menggeber acara.

Karena sepi, sewa kios (3 meter x 3 meter) yang semula Rp 300.000 sebulan kini turun menjadi Rp 75.000. Itu juga yang membuat Purwanto bertahan. Purwanto juga tak lagi mengandalkan warung makan, tapi dari dua kios kelontong yang juga disewanya.

”Aneh, mestinya warung laris karena tempat ini namanya Taman Kuliner,” ujar Purwanto.

Banyak sebab kenapa Taman Kuliner sepi. Pertama, lokasi tidak tumbuh alamiah. Penjual umumnya pedagang kaki lima Selokan Mataram yang ditertibkan. Namun, sebenarnya lokasi cukup tepat dan strategis. Dari perempatan Jalan Lingkar Gejayan tak lebih 500 meter.

Upaya promosi juga tidak gencar sehingga pelintas kerap tidak melihat lokasi. Budiarto (34), warga Trirenggo, Bantul, tidak tahu ada tempat tersebut meskipun telah melintasinya. ”Sebelah mana ya,” ujarnya bingung.

Tampilan Taman Kuliner memang kurang menjual. Malam hari dengan penerangan kurang, warga luar Yogyakarta tidak akan tahu ada tempat itu. Kondisi ini berbeda dengan tempat-tempat makan di kawasan Condong Catur yang dua tahun terakhir bertambah dan dikonsep menarik pemiliknya.

Melihat Taman Kuliner yang muram, Pemkab Sleman menempatkan UPT Taman Kuliner di bawah Dinas Pasar. Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Dinas Pasar Sleman Haris Martapa mengatakan, masih merumuskan penyebab sepinya Taman Kuliner dan solusinya.

Tentang lokasi, Haris menyebut Taman Kuliner yang menempati lahan tanah kas desa Condong Catur seluas 1,5 hektar ini strategis. Hanya memang secara tata letak kios, mesti direvisi. Bus besar pun kesulitan masuk area karena sempitnya gerbang.

Haris menyebut, kualitas dan rasa makanan sebagai alasan utama. Ia sering menerima tanggapan pengunjung yang tidak puas. Urusan rasa, memang relatif. Namun, banyaknya keluhan juga bukan kebetulan.

”Kami akan menggandeng asosiasi jasa boga untuk memberi kursus pemilik warung. Warung-warung makan terkenal akan kami ajak buka cabang,” ucapnya.

Taman Kuliner saat ini hanya disinggahi untuk nongkrong dan mencari ketenangan. Andri (20), sengaja ke Taman Kuliner bukan makan tapi untuk berinternet. Wifi memang disediakan di sini, tetapi hanya bisa diakses pukul 11.00-17.00.

Taman Kuliner malang di tengah tidak pernah sepinya tempat makan di Yogyakarta.




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: